BENTARA PENTAS MUSIK HASTA KARMA - DEWA BUDJANA BERSAMA SANDY WINARTA, MARTIN SIAHAAN, SAAT DAN SHADU RASJIDI

Hasta Karma merupakan album solo terbaru dari musisi Dewa Budjana, yang diluncurkan pada medio Maret lalu. Frans Sartono dalam tulisannya mengatakan bahwa musik yang dicipta oleh Dewa Budjana merupakan pertemuan budaya dengan latar kebalian. Komposisi tersebut juga dibaca oleh para musisi dengan berbagai latar kultural. Sebut saja drummer asal Meksiko yang memenangi Oscar 2015 dengan komposisi dalam film Birdman. Antonio Sanchez. Lalu musisi berdarah Afro-Amerika yang pernah bermain untuk Pat Metheny, yaitu Ben Williams. Juga Joe Locke yang pernah mendukung legenda jazz Dizzy Gillespie sampai penyanyi rock Rod Stewart. Hal ini menandakan komposisi karya Dewa Budjana, dapat diterima dan direspon baik oleh musisi dunia.
Setelah penampilannya terakhir di Bentar a Budaya Jakarta pada Januari 2012 dengan tajuk Dawai in Paradise, album solo ke-5, kini musisi Dewa Budjana hadir dengan Hasta Karma bersama ke empat rekan musisinya. Berturut-turut, Sandy Winarta (drummer), Martin Siahaan (keyboardist), Saat (suling) dan Shadu Rasjidi (bassis).
Latar kebalian di album ini terasa pada Saniscara dan Payogan Rain, juga pada komposisi lama Ruang Dialisis yang pernah dimuat di album Nusa Damai (1997), ditampilkan kembali di album ini dan dilengkapi semacam kidung tradisi Bali. Menurut Budjana seperti yang dikutip Frans Sartono, hal itu bukanlah sesuatu yang direncanakan tetapi muncul begitu saja, padahal ia tidak menguasai gamelan Bali. Pernyataan ini tentu saja semakin memperkuat keinginan untuk lebih mendengar secara langsung album Hasta Karma, album dengan musik nuansa kultural yang kental.


Musik
Pertemuan Budaya di Album Budjana

Menarik menyimak komposisi Dewa Budjana di album solo terbarunya, Hasta Karma. Karya yang lahir dari latar kebalian Budjana itu dibaca oleh musisi dengan berbagai latar kultural. Mereka adalah Antonio Sanchez, drumer asal Meksiko yang mendapat Oscar 2015 untuk komposisinya dalam film Birdman. Sanchezjuga pernah mendukung Pat Metheny dan Chic Corea. Kemudian Ben Williams pada bas musisi berdarah Afro-Amerika yang juga pernah bermain untuk Pat Metheny. Ada Joe Locke pada vibrafon yang pernah mendukung legenda jazz Dizzy Gillespie sampai penyanyi rock Rod Stewart.

Mereka menginterpretasi antara lain karya berjudul “Jayaprana“ yang yang dibuat Budjana atas kenangannya pada pentas pertunjukan rakyat Jayaprana di Bali. Budjana menyusun komposisi berdasar ritme pada gamelan Bali dengan ritme 5/8. Sanchez merespons “Jayaprana“ tanpa mengetahui latar kultural di balik karya tersebut. Dan cukup mengagetkan, Sanchez memainkan cymbal dan hi-hat seperti ia memainkan perkusi ceng-ceng pada gamelan Bali. Mungkin hal itu hanya terjadi secara kebetulan dan hasilnya terdengar perkusif, ritmis, dan terkesan seperti perkusi pada gamelan Bali. “Rhythm tradisinya tidak hilang,“ kata Budjana.

Sanchez dan musisi lain tidak mengetahui tentang latar belakang komposisi tersebut. Bahkan, mereka juga tidak mengetahui latar kultural Budjana sebagai musisi tumbuh dengan tradisi Bali. Di studio rekaman di New York, Amerika Serikat, mereka hanya “berlatih“ bersamaan dengan take atau perekaman secara langsung, live. Dan pada take ke-3 jadilah “Jayaprana“ dengan “rasa Bali“ itu.
Susupan Bali

Susupan rasa Bali juga terasa pada “Saniscara“ dan “Payogan Rain“. Komposisi lama “Ruang Dialisis“ yang pernah dimuat di album Nusa Damai (1997) dimunculkan lagi di album ini bahkan disertai semacam kidung tradisi Bali. Tentang rasa Bali itu, Budjana mengaku hal itu bukan sesuatu yang sengaja direncanakan. “Itu muncul begitu saja, padahal saya tidak menguasai gamelan Bali,“ kata Budjana.

Melodi yang muncul dari khazanah nada-nada pentatonik itu terdengar agak asing bagi musisi yang tidak familiar dengan melodi-melodi pentatonik. Bob Mintzer, musisi jazz yang mendukung Budjana pada album sebelumnya, Surya Namsakar (2014), mengaku mendengar notasi yang katanya jarang ditemuinya. Bob kepada Budjana mengaku tidak terbiasa dengan notasi-notasi seperti itu.

Begitu juga bagi musisi di album Hasta Karma. “Mereka bilang melodinya simpel, tetapi sulit dimainkan. Tetapi hasilnya di luar bayangan saya, ada kejutan,“ kata Budjana.

Sebuah komposisi memang baru menemukan hidupnya ketika dibaca, ditafsir, dihayati, dan dimainkan. Karya Budjana dibaca oleh musisi dari berbagai latar budaya: sebuah pertemuan budaya yang menghidupkan musik di album ini. (XAR)

Terima kasih & Salam Dinartisti Bentara Budaya Jakarta Jl. Palmerah Selatan no. 17 Jkt 10270 Telp.5483008 ext 7910-7915

(Sumber foto : print.kompas.com)

AKOMODASI DENGAN NUANSA “KEKINIAN“

Belakangan ini perkembangan teknologi, pola hidup, dan cara berkomunikasi sering kali dikaitkan dengan generasi milenial, generasi yang di Indonesia paling...

GITARIS PEDULI BENCANA SULAWESI TENGAH

Lebih dari 50 gitaris dan penyair bersatu dalam konser pengumpulan dana untuk korban bencana alam yang terjadi beruntun tahun ini. Konser Gitaris Indonesia...

"Relaunch #newMotion975" Pesta HipHopers Jakarta

Acara “9ET LIT: Celebrate Our 9th Anniversary and Relaunch Party of Motion Radio 975 FM“ di The Pallas SCBD Jakarta, Senin, 30 Juli yang lalu,...

JOKOWI KUNJUNGI OTOBURSA TUMPLEK BLEK 2018

Tabloid OTOMOTIF sukses menggelar event tahunan Otobursa Tumplek Blek 2018 bertema “New Excitement“, Sabtu–Minggu, 21–22 Juli....

“Cerita Negeri Kopi“ PESTA KOPI DI PALMERAH

Sesudah pada 2016 sukses menggelar Festival Kopi Flores, tahun ini Harian KOMPAS kembali membuka kesempatan bagi penikmat dan pencinta kopi di Jakarta...

HITUNG CEPAT PILKADA SERENTAK 2018

Antara lain sebagai wujud jurnalisme presisi, hitung cepat hasil pemilihan kepala daerah digelar di Palmerah. Tentunya sekaligus dengan semangat mengawal...

SANTIKA INDONESIA RAIH PENGHARGAAN

Satu lagi pencapaian diraih oleh Santika Indonesia Hotels and Resorts, kali ini diberikan oleh Markplus, Inc., konsultan profesional bidang pemasaran,...

Kembalikan Lagu Anak Indonesia!

UMN Pictures bersama Corporate Communications KG berkolaborasi memproduksi video animasi lagu anak “Aku Suka Membaca“, salah satu juara lomba...

OJEK LUSI UMN MENANGKAN MALANG FILM FESTIVAL 2018

Film dokumenter Ojek Lusi garapan mahasiswa prodi Film dan Televisi UMN memenangkan Malang Film Festival 2018 kategori Film Dokumenter Terbaik di Universitas...

NONTON BARENG VALUE PEOPLE: “AVENGERS INFINITY WAR“

Turut memeriahkan penayangan film terbaru seri Avengers yang sudah dinanti-nanti banyak penggemarnya, KG Value Card menyelenggarakan “Nonton Bareng...
© 1963 - 2018  Kompas Gramedia - All rights reserved.
Website by PandavaMedia